Bagaimana Perasaan Shame Dapat Mempengaruhi Gangguan Stres Pasca Trauma
Setelah terpapar pada peristiwa traumatis , orang-orang mungkin mengalami berbagai emosi, seperti ketakutan, kecemasan , kesedihan, kemarahan , rasa bersalah, atau rasa malu. Meskipun semua emosi ini mungkin sangat menyusahkan, rasa malu bisa menjadi emosi yang sangat sulit untuk diatasi setelah trauma. Begitu banyak sehingga ada semakin banyak bukti bahwa pengalaman malu dikaitkan dengan keparahan gangguan stres pasca-trauma, atau PTSD, gejala setelah peristiwa traumatis.
Sebelum kita membahas hubungan antara malu dan PTSD, pertama-tama penting untuk memahami apa itu rasa malu dan bagaimana hal itu berbeda dari emosi lain.
Perbedaan Antara Rasa Malu dan Rasa Bersalah
Rasa malu sering dianggap sebagai "emosi yang sadar diri" dan pada umumnya sangat terkait erat dengan emosi rasa bersalah. Faktanya, banyak orang kesulitan membedakan antara rasa malu dan rasa bersalah. Inilah perbedaannya:
Rasa malu adalah emosi yang terjadi ketika Anda mengevaluasi atau menilai diri Anda dalam cahaya negatif. Misalnya, Anda mungkin mengalami malu jika Anda menganggap diri mereka tidak berharga, lemah, buruk, atau tidak berguna.
Rasa bersalah terjadi ketika Anda mengevaluasi perilaku atau tindakan sebagai negatif. Misalnya, jika Anda meminjam uang dari seseorang dan kemudian gagal membayarnya kembali, Anda mungkin mengalami kesalahan karena Anda melakukan sesuatu yang dapat dianggap salah atau tidak pengertian.
Penting untuk membedakan antara rasa malu dan rasa bersalah karena mereka memengaruhi perilaku Anda dengan cara yang berbeda.
Rasa bersalah dapat memotivasi Anda untuk menebus kesalahan, meminta maaf, atau memperbaiki perilaku. Melakukan hal-hal semacam itu akan membantu mengurangi rasa bersalah dan dapat meningkatkan sejauh mana Anda merasa positif tentang diri Anda. Dengan cara ini, rasa bersalah bisa menjadi emosi yang membantu.
Sayang, di sisi lain, jarang berguna. Dengan rasa malu, Anda mungkin lebih cenderung melakukan penghukuman sendiri (misalnya dengan sengaja menyakiti diri sendiri ) atau mengisolasi diri Anda dari orang lain.
Ini hanya akan sedikit mengurangi rasa malu dalam jangka panjang dan bahkan dapat meningkatkan rasa malu Anda.
The Link Between Shame dan PTSD
Studi secara konsisten menemukan hubungan yang kuat antara rasa malu dan pengalaman gejala PTSD setelah peristiwa traumatis.
Misalnya, pengalaman memalukan telah ditemukan terkait dengan tingkat keparahan PTSD di antara veteran laki-laki yang lebih tua yang tawanan perang dan perempuan yang telah terkena kekerasan antarpribadi. Yang menarik, penelitian ini menemukan bahwa rasa malu memiliki hubungan yang lebih kuat dengan PTSD daripada rasa bersalah.
Para peneliti telah berteori bahwa pengalaman memalukan setelah peristiwa traumatis dapat menyebabkan Anda menggunakan strategi mengatasi yang tidak sehat , seperti penggunaan alkohol, penghindaran, atau perilaku merusak diri sendiri, yang dapat mengganggu kemampuan Anda untuk memproses emosi yang terkait dengan peristiwa traumatis. Ketidakmampuan untuk memproses emosi ini dapat berkontribusi pada pengembangan atau intensifikasi gejala PTSD.
Selain itu, karena pengalaman memalukan dapat dikaitkan dengan penilaian kelemahan atau nilai, korban dapat merasa lebih stigma tentang mengalami peristiwa traumatis. Stigma ini kemudian dapat mencegah Anda mencari perawatan yang tepat.
Mengurangi Pengalaman Rasa Malu
Rasa malu bisa menjadi emosi yang sangat sulit untuk diatasi. Namun, beberapa strategi mengatasi dapat sangat berguna untuk rasa malu setelah trauma.
Ketika mengalami rasa malu, penting untuk mengambil "tindakan yang berlawanan." Yaitu, lakukan sesuatu yang bertentangan dengan emosi rasa malu. Misalnya, jika rasa malu menyebabkan Anda merasa seolah-olah Anda perlu melakukan sesuatu yang merusak diri sendiri, lakukan sesuatu yang lebih mementingkan diri sendiri . Strategi koping yang menenangkan diri dan menenangkan diri dapat sangat berguna dalam hal ini.
Strategi koping yang sehat ini bukan tanpa tantangan mereka, tetapi semakin banyak yang dapat Anda gunakan dalam menanggapi rasa malu, semakin kecil kemungkinannya bahwa rasa malu akan menguasai dan mengarah pada perilaku yang tidak sehat.
Perawatan tertentu mungkin juga berguna dalam mengurangi rasa malu. Terapi Pengolahan Kognitif untuk PTSD telah terbukti efektif dalam mengurangi rasa malu di antara orang-orang dengan PTSD. Terapi Perilaku Dialektik juga dapat berguna dalam mengurangi rasa malu.
Jika Anda tertarik untuk menemukan terapis yang terlatih dalam perawatan ini, Anda dapat mencari satu di daerah Anda melalui situs web Asosiasi untuk Terapi Perilaku dan Kognitif (ABCT).
Sumber:
Beck, JG, McNiff, J., Clapp, JD, Olsen, SA, Avery, ML, & Hagewood, JH (2011). Menjelajahi emosi negatif pada wanita yang mengalami kekerasan pasangan intim: Malu, rasa bersalah, dan PTSD. Terapi Perilaku, 42 , 740-750.
Leskela, J., Dieperink, M., & Thuras, P. (2002). Gangguan stres yang memalukan dan pasca trauma. Jurnal Stres Traumatis, 15, 223-226.
Lewis, HB (1971). Rasa malu dan bersalah dalam neurosis. New York, NY: Press Universitas Internasional.
Resick, P., & Schnicke, MK (1992). Terapi pemrosesan kognitif untuk korban kekerasan seksual. Jurnal Konsultasi dan Psikologi Klinis, 60 , 748-756.
Street, AE, & Arias, I. (2001). Pelecehan psikologis dan gangguan stres pasca trauma pada wanita yang babak belur: Memeriksa peran rasa malu dan rasa bersalah. Kekerasan dan Korban, 16 , 748-756.